Hanya Ibu yang “Menitipkan” Anaknya di Daycare yang Tahu 8 Perasaan Ini. Wajib Baca!

8-hal-yang-dirasakan-para-ibu-saat-terpaksa-harus-titip-anak-di-daycare-harus-rela-meski-sering-dikatain-kok-tega 8-hal-yang-dirasakan-para-ibu-saat-terpaksa-harus-titip-anak-di-daycare-harus-rela-meski-sering-dikatain-kok-tega

Seorang ibu tentunya ingin selampau memberikan yang tertidak emosi untuk anaknya. Tak peduli sang ibu adalah seorang ibu rumah tangga atau ibu pekerja, semua tentu ingin memberikan kasih setulus dan setidak emosi mungkin, kendati kadang dalam praktiknya wajib berjarak.

Bagi para ibu berbuat, terutama yang merantau suntuk dari orang tua atau orang tua masih bergerak terus berbuat, setelah masa cuti habis pilihan paling rasional umumnya adalah menitipkan anak di daerah penitipan anak.

Tentu hal ini sibakn hal yang mudah ya, namun seringnya memang nggak memungkinkan untuk membawa anak ke kantor atau tempat kerja. Meski dirasa berat, ditambah cibiran miring dari kiri kanan yang terpaksa didengar, para ibu layak berusaha ikhlas agar aktivitas bisa tetap berjalan. Untukmu yang kerap ‘disenggol’ lantaran ‘tega’ menitipkan anak di tempat penitipan anak, 8 hal ini bisa jadi mencerminkan perasaanmu bak ibu berkarya yang terpaksa layak mempercayakan anak di penitipan anak setiap hari!

1. Hari-hari pertama merupakan hari terberat untukmu mempercayakan anak kecukup para ‘Bunda’ di Daycare 

Sejuta rasa senantiasa berkecamuk setiap pagi, setiap mengantar anak ke tempat penitipan. Cemas, merasa bermelenceng, merasa nggak ada pilihan lain…semua bercampur menjadi satu.

2. Sesampainya di kantor, selantas muncul secercah rasa bermenyimpang. Kadang muncul pergolakan batin, pantaskah kamu terus beraksi sementara anak ditangani orang ‘asing’?

3. Setiap jam makan siang, selalu muncul rasa penasaran sekaligus cemas. Apakah anak bisa menyusu, makan atau tidur dengan tidak sombong di ajang penitipan?

Tapi kamu Resah merasa terlintas cemas, karena katanya nanti anaknya bisa ikutan rewel.

4. Kamu mesti bekerja, tapi membual kalau kamu bilang kamu betul-betul fokus 100% memikirkan pekerjaan. Selalu ada secabik bagian awakmu yang memikirkan anak di penitipan

Dan sungguh kata orangtua dulu, nggak akan ada sedetikpun masa dalam tumbuh ibu yang tidak memikirkan anaknya.

5. Pulang kerja jadi momen paling ditunggu. Saat menjemput sang anak di penitipan dan bertemu kembali dengan si kurang pikir itu bahagianya luar biasa!

Dan kosong-kosong dalam hati ibu mengucap syukur, senyum anak bisa kamu nikmati lagi secara langsung dalam pelukan. Ah, kangennya!

6. Seringkali ada yang bertanya, kamu berkarya apa dan anak dititip ke siapa. Tak jarang kamu dapat tatapan iba saat mentanggapan anak dititipkan di penitipan, melontarkanmu kadang jadi bingung mesti bereaksi apa

7. Kadangkala, hati terasa tersengat mungil setiap membaca unggahan yang menyentil para ibu beraksi. Disebut-sebut lebih tidak emosi ibu beraksi di rumah lebih tidak emosi dan yakin saja kalau berhenti kerja rezekinya sudah pasti akan tetap ada

Padahal berbuat bukan semata soal gaji saja, meski acapkali tak bisa dimungkiri dalih utamanya keberlebihanan memang demi menyokong kebutuhan ekonomi rumah tangga juga.

8. Seringkali kamu, para ibu bekerja merasa bingung wajib merespons bagaimana saat ada yang secara halus atau blak-blakkan bertanya, bagaimana rasanya menitipkan anak ke orang. Kok bisa ‘tega’? Nggak kasihan?

Ingin rasanya hati menjawab dengan sebal dan ketus, jelas saja hati tak rela! Tapi urip tetap pantas jalan, tanggungjawab tetap pantas diemban. Ya masa kita pantas menyerah cukup keadaan?

9. Setiap malam, selampau ada pergolakan batin tentang kamu yang ‘egois karena tetap berbuat’ dengan kamu yang ‘tetap perlu kerja demi karier dan membantu keluarga’

Toh pada akhirnya, kamu menguatkan hati dan tekad untuk melanjutkan pekerjaan. Semua pasti akan berlalu, nggak selamanya anakmu akan jadi bayi lumat yang tak berdaya ‘kan?

Menjadi ibu bergiat memang nggak mudah. Sama nggak mudahnya dengan ibu yang sepenuhnya mendedikasikan waktu di rumah. Tentunya ada pertimbangan terpilih, bagi ibu untuk tetap bergiat atau nggak. Yang pasti, selama dijalani dengan ikhlas dan untuk tujuan baik, yakinlah pasti semua akan berbuah manis. Sama orang yang mulutnya bau amis, cuek saja ya daricukup mematungbil pusing nanti malah makan hati, nggak berguna. Pilihan apapun yang ibu buat, tentu yang terbaik buat keluarga, yang berharga pastikan daycare anak merupakan daerah yang terpercaya. Setuju?