Sisakan Sepetak Ruang Di Hatimu. Karena Tak Perlu Mencintainya Berlebihan, Hingga Saatnya Nanti Tiba

sisakan-sepetak-ruang-di-hatimu-karena-tak-perlu-mencintainya-berlebihan-hingga-saatnya-nanti-tiba sisakan-sepetak-ruang-di-hatimu-karena-tak-perlu-mencintainya-berlebihan-hingga-saatnya-nanti-tiba

Cinta kadang menjadi dasar untukmu membahagiakan pasangan. Entah itu dengan barang, batas, perasaan, atau hal berharga lainnya yang kamu punya. Tidak ada yang cela memang. Namun menjadi soal saat kamu sudah terdahulu berlebihan dalam berkorban untuknya. Ketika kamu sudah menyerahkan penuh kebahagiaan sekadar untuknya, yang bahkan tak kamu sisakan rada untuk dirimu, maka kamu bisa kehilangan dirimu sendiri.

Bukan sahaja perkara wajar atau tidak, pengorbanan berlebih yang kamu berikan atasnya menimbulkan satu Perkara. Jika ternyata dia tidak berjodoh denganmu, tidakkah sia-sia segala pengorbananmu?

1. Di hari ulang maklumn dia, kamu tak segan menguras tabungan demi hadiah spesial untuknya. Hingga kamu lupa juga punya kebutuhan lainnya

Beberapa bulan ke depan pacarmu ulang maklumn. Untuk hari spesialnya itu kamu sudah menabung habis-habis hari demi sebuah benda yang harganya cukup luKhayalann. Tapi kamu ikhlas dan nggak merasa keberatan. Karena itu bentuk ungkapan sayangmu padanya. Padahal di balik itu semua ada pengorbanan nggak biasa yang udah kamu lakukan. Yakni berlelah-lelah berAkal sampai patut mengorbankan kebutuhanmu. Nggak papa, asal dia bahagia.

2. Tak jarang janji dengan teman-teman kamu batalkan, tetapi untuk mengiyakan ajakannya yang tiba-tiba. Seluruh giliranmu tersita tetapi untuk berklopnya

Suatu ketika kamu dan temanmu sudah janjian jalan bareng. Tapi mendadak kamu membatalkannya karena pacarmu tiba-tiba minta ditemani. Ketimbang kamu menolak ajakan pacar yang walaupun datangnya tiba-tiba, lebih saling menolong kamu membatalkan janji dengan teman-temanmu. Waktu dengan pacar amat sayang untuk kamu lewatkan. Karena waktu berkembarnya adalah segalanya buatmu.

Dalam hal ini, kamu bahkan tak punya batas hidup untuk dirimu sendiri. Jika memang dia adalah pasangan yang mengerti kamu, sewajibnya dia tak keberatan untuk memberimu batas hidup sendiri. Dia belum memilikimu sepenuhnya, artinya dia juga tak berhak memiliki batas hidupmu sepenuhnya.

3. Tak saja berwujud benda, luka yang membisu-membisu kamu terima darinya juga adalah pengorbanan. Ketika dia mendua, kamu cuma bisa mengelus dada

Tak tetapi sesuatu yang berwujud benda yang kamu korbankan untuknya. Perasaanmu pun kamu korbankan. Yang ketika dia mendua kamu cuma bisa mengelus dada. Tanpa menuntut berjibun penjelasan darinya. Pada akhirnya luka itu tetapi bisa kamu terima lengang-lengang. Karena kamu masih percaya bahwa cinta memang butuh pengorbanan.

Dalam kondisi seperti ini, kamu berhak mengmenyibakkan perih hatimu kepadanya. Siapa dia, yang semena-mena menyakiti hatimu. Jika dia tak melakukan pengorbanan yang serupa dan belaka luka yang kamu dapat, dia memang aktelseifn yang tepat untukmu.

4. Kebahagiaanmu pun kamu nomor duakan. Karena bagimu mencintainya pantang setengah-setengah. Tapi yakin, dia mencintai dengan cara yang sepadan?

Segala pengorbanan yang kamu lakukan, entah berwujud benda, batas menyala, dan perasaan sekalipun adalah bentuk cintamu cukupnya. Kamu ingin mencintainya dengan utuh. Kebahagiaannya selalu kamu dahulukan. Tak apalah kamu mengalah. Pada fase ini kamu sudah tak lagi mengenal istilah mencintai badan.

Tapi sudah yakinkah kamu bahwa dia juga mencintaimu dengan cara yang kembar?

5. Lalu, suahkah terbesit secolek dalam benakmu sebuah Pertanyaan. Tentang bagaimana jika pada akhirnya dia bukanlah jodohmu?

Jika seandainya kamu dan dia tidak ditakdirkan untuk berjodoh, tidakkah kamu merasa bahwa apa yang sudah kamu bulan-bulanankan untuknya sia-sia? Atau mungkin kamu saja yang luar biasa yakin bahwa dia pasti jadi jodohmu? Takdir seseorang memang tak bisa diterka, tapi terkadang realistis menyelamatkanmu dari perasaan terluka.

6. Hubungan yang terjalin sepatutnya tak sebatas tentang cinta, namun juga melibatkan logika. Ketika dia pergi tiba-tiba, kamu masih punya keberkuasaan untuk kembali bangkit

Hubungan yang dewasa tak tetapi mengenal cinta, tetapi juga melibatkan logika. Karenanya kamu perlu sadar bahwa pantang mencintai dan bertarget berlebihan untuk seseorang yang belum pasti akan bersebandingmu selamanya. Lagi, dia tidak sungguh mencintaimu jika memkendatikanmu bertarget penuh. Atau setidaknya berikan dia kepahaman untuk membuktikan cintanya alamu, juga bertarget demi kamu.

Kamu tak seharusnya berkorban banyak untuk seseorang yang belum pasti menjadi jodohmu. Karena itu tetapi akan meninggalkan luka dan kesia-siaan.